Cerpen : Ini Baru 'Laki'


"Thank you, Honey. Last night was so perfect. You're the best!" Napas lembut Jolie terasa hangat di telingaku.

Tubuh tanpa balutan sehelai benang ini masih enggan untuk bangkit. Kubuka sedikit kelopak mata untuk melihat senyumnya, yang terukir sempurna setiap kali gelora yang ia pendam tersalurkan.

Pelukan hangat kembali kurasakan, sebelum suara pintu kamar mandi ditutup, disusul suara air dari shower di hotel ini.

Mungkin, aku memang sudah gila. Di usia lebih dari tiga puluh tahun, diri ini masih tak juga menikah. Aku masih asyik menikmati cinta yang tak sepantasnya.

Suara notifikasi dari aplikasi Facebook menimbulkan rasa penasaran. Kupaksakan tubuh ini bangkit, meraih pakaian yang berserakan di lantai. Sekilas, kulirik seprai putih yang tampak kusut akibat 'permainan' bersama Jolie semalam.

Setelah memakai celana, kuraih ponsel di meja, lalu membuka notifikasi dari sebuah grup literasi. Ternyata, tema untuk grup D1 di event itu telah diumumkan. Ah! Aku baru ingat, namaku ada di antara daftar para peserta.

***

Berkali-kali kutatap layar ponsel, berdesah, lalu meletakkan benda pintar itu di meja. Tak lama, aku  kembali mengambil ponsel itu dan membuka sebuah grup yang seharian ini membuat waktuku tersita.

Tema yang diajukan para juri untuk grup ini benar-benar membuatku harus berpikir keras untuk menemukan ide yang cemerlang. 'Bangga', tema yang tampak sepele, tetapi cukup membuatku menguras otak. Terlebih, setelah menghabiskan malam bersama Jolie untuk kedua kalinya, pikiranku terus  terusik oleh kecantikan dan 'kelihaian' wanita itu.

Sial! Pikiranku semakin buntu. Banyaknya buku yang telah kutulis, tak membuatku mudah menaklukkan tantangan ini. Satu hari berlalu sejak diumumkan tema, tak ada satu kata pun yang berhasil kuketik. Bahkan, walau hanya sekadar tanda titik.

Terus dipusingkan dengan event, akhirnya kuputuskan untuk membuka sebuah pesan masuk di Whatsapp yang sedari tadi kuabaikan. Arya, seorang sahabat lama mengingatkan kalau malam ini aku tak boleh lupa menemuinya.

Dengan berat hati kuturuti kemauan Arya. Ia baru saja pindah dari Bandung minggu lalu. Kariernya melesat cepat dalam kurun waktu lima tahun. Kini, ia bertugas di kantor pusat perusahaan tempatnya bekerja.

Aku jadi teringat saat kami masih kuliah dulu. Lelaki yang selalu mendapat nilai tertinggi di kampus itu tak pernah berhenti memamerkan segala prestasi yang ia raih. Terlebih, saat aku datang menjemputnya.

"Ini piagam-piagamku dari lomba cerdas cermat waktu SD." Deretan penghargaan itu tersusun rapi di dinding kamarnya yang berwarna biru.

"Yang ini waktu SMP, yang ini SMA, yang ini--"

"Kita bisa telat, Ya!"
pungkasku, memotong ucapannya.

Ia berdecak dan segera bergegas untuk berangkat ke kampus denganku.

Lain waktu, ia mengenalkan pacarnya padaku. Beberapa orang gadis berkulit putih, wajah cantik menawan, serta 'body' yang aduhai bergantian mengisi warna hidupnya saat kuliah.

Dewi Fortuna seolah selalu berpihak pada prestasi dan kehidupan asmara Arya. Berbanding terbalik dengan kehidupanku yang hanya berkutat dengan buku, ponsel pintar, dan komputer. Selain deretan buku bertuliskan nama Agung Jabrix, tak ada prestasi apa pun yang bisa kubanggakan.

Kehidupan asmaraku juga rumit. Beberapa kali aku menjalin hubungan dengan wanita bersuami. Entah mengapa, mereka tampak lebih seksi di mataku, dibandingkan wanita yang masih lajang. Sebagai sahabat, Arya tahu persis kisah asmara gelap yang kujalani.

Saat ini pun, aku tengah asyik menjalin cinta dengan salah satu pembaca setia cerita-cerita yang kutuliskan. Berawal dari hubungan pertemanan di media sosial, lalu berubah menjadi perselingkuhan.

***

Sejenak, kulupakan event menulis itu dan memilih melepas penat dengan mendatangi kafe yang dijanjikan Arya. Dengan kaus oblong berwarna hitam, celana jin senada, dilengkapi sweter abu-abu, kulajukan motor menyusuri jalanan ibukota.

Lima belas menit berada di jalanan penuh debu, aku tiba di sebuah kafe yang Arya janjikan. Suasana di kafe itu cukup ramai dengan pengunjung. Aku menoleh dan mengedarkan pandangan untuk menemukan sosoknya.

Seorang pria berkacamata, rambut klimis, dengan balutan kemeja yang menjadi ciri khasnya, telah duduk menungguku di sudut ruangan. Kulit putih dan wajah mirip vokalis Afgan itu sangat berbeda denganku yang tampak kusut, dengan cambang yang kubiarkan menghiasi wajah.

"My brother!" Ia menjabat tanganku dan memeluk erat. Kubalas sambutannya dengan hal yang sama.

Setelah memesan makanan, Arya mulai membuka percakapan.

"Dari dulu kau tidak berubah, Gung."

Aku tersenyum dan menyandarkan punggung di sofa. "Beginilah adanya," jawabku singkat. "Oh ya, selamat atas kenaikan jabatanmu!" Aku kembali menegakkan punggung.

"Kau sendiri, kapan menyusulku?"

Ah! Dia mulai lagi. Tidak di Whatsapp, tidak bertemu langsung, selalu pertanyaan itu yang ia ajukan.

"Menulis tidak membuatku miskin. Bukan gayaku duduk manis di balik meja sepertimu," kilahku dengan alasan yang juga nyaris sama setiap kali menjawabnya.

"Terserah kau saja! Aku hanya ingin memberi tahu, bekerja di tempatku menjadi impian banyak orang. Kalau kau mau, aku bisa merekomendasikanmu ke bagian HRD."

"Ck!" Aku menaikkan sebelah bibir. Malas sebenarnya melayani kegemaran Arya memamerkan segala yang ada pada dirinya. Namun, demi satu kata bernama "sahabat", serta pertemuan pertama sejak kepindahannya, kukuatkan telinga untuk mendengar celotehnya.

Arya selalu menganggap kehidupannya yang terbaik. Kuakui, dibandingkan denganku yang hanya seorang penulis amatir, ia memang pantas membanggakan diri. Aku sendiri tak tahu sampai kapan mengandalkan hidup hanya dari menulis.

Seorang pelayan membawakan dua gelas jus jeruk ke meja kami. Segera kuhabiskan setengahnya untuk menutup dahaga dan mendinginkan 'isi kepala'.

"Bagaimana kabar wanitamu? Kau tak ingin memiliki istri sepertiku?"

Aku menggeleng cepat.

"Kau ini! Belum kena batunya!"

Aku tertawa mendengar ucapannya.

"Kau tahu, Ya, menjadi selingkuhan dan memberi kepuasan pada wanita-wanita itu lebih menarik daripada menjadi suami yang sering ditinggal pergi istrinya," balasku.

Arya menatapku dengan mata melotot. Entah karena perbuatanku yang salah atau karena sindiran yang ia terima.

Sahabatku ini telah menikah tiga tahun lalu, tetapi belum dikaruniai anak. Ia sering bercerita, sang istri acap kali meninggalkannya sendiri demi sebuah acara di luar kota. Di mataku, kehidupannya lebih menyedihkan, meski ia terus merasa bangga memiliki istri yang selalu ia puji kecantikannya.

"Istriku keluar kota untuk suatu urusan. Akhir-akhir ini dia memang sangat sibuk."

Alasan! Arya pasti hanya mencoba menaikkan harga dirinya.

"Benarkah? Apa istrimu tahu kau berteman dengan penulis terkenal?" ucapku penuh percaya diri, meski dalam hati aku mengingkarinya. Aku perlu sesekali membanggakan diri di depan Arya.

"Ah! Aku sampai lupa, kalau kau adalah penulis ter-ke-nal!" Ia menekan intonasi pada kata terakhir. Entah itu pujian atau sindiran, aku tak tahu dan tak mau tahu.

"Kau selalu bilang kalau istrimu cantik. Kenapa kau tidak pernah mengunggah fotonya di akun media sosialmu?" tanyaku penasaran. Selama ini, Arya memang tak pernah memperlihatkan foto istrinya di media mana pun yang ia miliki. Bahkan, foto pernikahannya juga belum pernah kulihat.

"Kau tahu aku pencemburu. Aku tak ingin ada banyak mata lelaki memandang kecantikannya."

"Ck! Yang benar saja! Secantik apa istrimu? Atau malah sebaliknya?" Aku semakin penasaran. Rasa penasaran itu malah membuatku curiga, kalau sebenarnya istri Arya adalah wanita buruk rupa sehingga ia malu memperlihatkannya pada orang lain.

"Sial! Kau pikir aku lelaki yang sembarang memilih istri?" umpatnya. Aku hanya tertawa.

Arya mengeluarkan ponselnya. Tak lama, ia menunjukkan beberapa fotonya bersama seorang wanita. Ada foto pernikahan, juga foto mereka di dekat patung singa yang menyemburkan air.

Senyum wanita di foto itu membuat degup jantungku berdetak tak karuan. Wanita berkulit putih, bibir ranum, serta sepasang mata bulat yang indah, sangat tidak asing di mataku.

Lidahku kelu seketika. Kedua lututku terasa lemas. Dengan tangan gemetar kukembalikan ponsel itu padanya. Melihat foto-foto itu nyaris membuat napasku terhenti.

"Bagaimana? Istriku cantik, bukan?" ucapnya bangga.

Aku mengangguk pelan. Pikiranku melayang pada kejadian dua malam lalu. Tergambar jelas bagaimana wanita yang kukenal sebagai Jolie itu, bergerak liar menikmati setiap sentuhan di kulit mulusnya.

Sial! Aku nyaris menampar wajahku sendiri tanpa sadar.

"What's wrong?" Arya tampak khawatir.

Aku menatapnya lekat, mendadak ada sebuah ide di kepala.

"Arya, kau harus baca cerpenku di event cerpen grup X besok malam. Harus!"

Ia tampak heran. Ah, apa peduliku!
***

Jolie. Nama dan wajah cantiknya terus menghantuiku. Seorang istri yang menganggap suaminya kurang perhatian dan lemah itu, tak lain adalah istri sahabatku sendiri.

Semua rangkaian kejadian ini membuatku menemukan sebuah ide cemerlang. Selain untuk event, juga untuk memberi tahu Arya, apa arti lelaki yang sesungguhnya.

Bagiku, tak ada yang lebih membanggakan dibandingkan dengan 'kemampuan' sebagai pria dewasa.

"Laki harus kuat! Kalau tak kuat, tanyakan pada ahlinya!"

Kalimat itu menjadi penutup di cerpenku.

Klik! Cerpen itu terkirim satu jam sebelum batas waktu pengiriman berakhir. Tak lama, beberapa komentar muncul. Sebuah akun yang kukenal berada di antara para komentator itu.

"Goodluck! Semoga menang, seperti kau memenangkan hatiku," tulis akun bernama Jolie.

Komentar lainnya bermunculan. Kini, akun bertuliskan Arya Kumbara turut memberikan komentar.

"DAMN YOU!!! I'LL KILL YOU!"

Aku tertawa puas di depan komputer. Tak peduli jika hubungan persahabatan kami akan berakhir.

Timit

Note:
-Last night was so perfect. You're the best = tadi malam begitu sempurna. Kau yang terbaik
-Damn you. I'll kill you= sialan kau. Akan kubunuh kau

2 comments

Member Of