Cerpen : Rewang Pesta di Rumah Orang Kaya


Pict by Pixabay.com

"Pak Yana, kok sudah mau makan? Jangan makan dulu, belum waktunya!"

Seorang lelaki berpakaian ala Raja Melayu mendekati pria berseragam yang hendak menyendok nasi.

"Oh, maaf, Pak." Lelaki berseragam biru yang dipanggil Pak Yana itu segera meletakkan piring di tempatnya dan kembali 'bekerja'. Tepatnya, kembali membantu si tuan rumah mengadakan pesta pernikahan anaknya

Tak jauh dari tempat mereka berdiri, seorang pria berseragam lainnya menggeleng melihat sikap Pak Haji--si tuan rumah. Ia tak menyangka akan melihat pemandangan tak mengenakkan di depan matanya.

'Kenapa tidak biarkan saja Pak Yana makan dulu, Pak Haji? Keterlaluan sekali!' batinnya.

Siang itu, pesta pernikahan anak pertama Pak Haji tampak sangat meriah di kampungnya. Pernak-pernik dan dekorasi ala pesta gedung menghiasi halaman rumah. Semua yang membantu jalannya pesta, mulai dari penjaga parkir, tukang angkat piring kotor, bagian masak, hingga bagian menerima tamu, diberikan seragam oleh pria kaya itu.

Pria paruh baya itu memang terkenal sangat kaya. Kebun sawit dan kontrakannya ada di mana-mana. Bahkan, sebuah masjid besar di depan rumah mewah itu dibangun di atas tanahnya. Sebahagian dana pembangunan masjid juga dibantu oleh lelaki bertubuh tinggi besar itu. Tak ayal, para jamaah di sana sangat sungkan padanya.

Beberapa hari yang lalu, Pak Haji meminta bantuan teman-teman yang rutin mengaji di Masjid Sultan--di depan rumah Pak Haji--untuk membantu di acara pernikahan anaknya. Mereka semua didata satu per satu. Struktur panitia pesta pun dibuat sedemikian rupa, agar walimahan besar itu terlaksana dengan lancar.

Hari H pernikahan tiba. Bapak-bapak yang bertugas di hari itu telah datang pagi-pagi sekali. Bahkan, setelah salat Subuh di Masjid Sultan, sebagian dari mereka langsung menyibukkan diri dengan tugas masing-masing. Tampak puluhan orang berseragam biru lalu lalang membawa segala keperluan.

Sepasang pengantin duduk manis di singgasana pelaminan yang terpisah antara tamu wanita dan pria. Ada hijab yang menjadi pembatas kursi untuk para tamu, meski pelaminannya sendiri tidak dibatasi dengan hijab.

Matahari mulai meninggi, panasnya membuat peluh menetes di setiap tubuh para warga yang membantu. Pak Haji yang tidak bisa duduk manis di panggung pelaminan putrinya, berjalan menuju dapur. Ia mengatur apa saja yang menurutnya tidak tepat. Hingga tampaklah olehnya Pak Yana hendak mengambil nasi.

Bagi Pak Haji, ada waktu-waktu makan yang ditentukan bagi para 'pekerja'. Dia menetapkan makan siang mereka selepas Zuhur. Sementara, saat Pak Yana hendak makan, jarum di jam tangan mewahnya baru menunjukkan pukul sebelas.

Tanpa rasa bersalah, Pak Haji melarang Pak Yana mengambil nasi, meski piring dan centong sudah di genggaman lelaki itu. Setelah melarang Pak Yana, Pak Haji kembali berkeliling untuk melihat aktivitas para 'pekerja' lainnya. Tanpa ia sadari, di belakangnya telah banyak yang berbisik-bisik atas kejadian beberapa menit lalu.

Pesta mewah dengan berbagai menu hidangan prasmanan pun berjalan dengan lancar. Wajah kedua pengantin dan orang tuanya tampak sangat bahagia. Para tamu yang sebagian besar dari kalangan berada, terus 'membanjiri' lokasi pesta.

Pukul sepuluh malam pesta mewah itu usai. Semua 'pekerja' kembali ke rumah masing-masing, tanpa ada seorang pun yang membawa sebungkus makanan ke rumahnya sebagai upah lelah mereka. Pekerja bagian dapur tidak berani menyiapkannya, tanpa ada 'perintah' dari si tuan rumah.

Satu hari setelah pesta usai, Pak Haji mengundang beberapa orang yang membantu pesta pernikahan anaknya. Beberapa orang saja, yang dianggap 'penting' dan 'berada'. Sementara, yang lain tidak ia undang dalam acara penutupan pesta dan makan-makan itu.

Secara kebetulan, salah satu 'pekerja' yang tak diundang itu salat Isya di Masjid Sultan, di saat acara makan-makan penutupan pesta berlangsung. Ia adalah pekerja yang membatin saat Pak Yana dilarang makan oleh Pak Haji. Ia turut duduk di masjid karena dipaksa oleh salah seorang dari mereka.

"Bagaimana pesta saya kemarin? Kalau ada kritik dan saran, sampaikan saja," ucap Pak Haji dengan wajah penuh rasa bangga.

Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Para 'pekerja' itu hanya memandang satu sama lain, kemudian tersenyum pada Pak Haji. Tampak rasa sungkan di wajah mereka untuk mengutarakan sesuatu. Tak lama, salah seorang di antaranya bersuara, "Bagus, Pak, pestanya. Mewah, lancar. Barakallah."

"Haha. Terima kasih, semuanya," ucapnya pongah. "Kalau begitu, mari kita ke sana. Makanannya sudah disiapkan." Pak Haji menunjuk pada deretan kursi yang disusun di luar masjid.

Mereka semua berjalan menuju tempat yang disediakan. Sementara, satu orang berjalan ke arah berlawanan.

"Pak Surya, kenapa tidak ikut ke sini?" Suara keras Pak Haji membuat yang lain menoleh pada lelaki yang ditanyai itu.

"Maaf, Pak Haji. Saya tidak dapat undangan, jadi saya pulang saja."

"Tidak apa-apa. Saya memang tidak mengundang semuanya. Tapi bukan berarti Pak Surya tidak boleh makan, 'kan? Ayo, silakan."

"Terima kasih, Pak. Tapi saya takut kejadian seperti Pak Yana. Saya pulang dulu. Assalamualaikum," tutur Pak Surya lembut.

Ucapan lelaki di hadapannya membuat wajah Pak Haji menegang. Pria kaya itu menatap tajam punggung lelaki yang berjalan meninggalkan masjid.

--End--

No comments

Member Of