Gadis Pemintal Benang


Gauri terus memintal benang secara perlahan. Sangat lambat. Bukan tak pandai, tetapi berat hati ia melakukannya. Terbayang wajah lelaki yang tak lama lagi mengubah statusnya, Gauri mendadak menghentikan aktivitas. 

“Aku tak ingin menikah denganmu, pria jelek!”

Gadis bermata bulat itu frustrasi. Pikirannya kembali melayang pada beberapa waktu lalu, saat sang ibu memintanya untuk segera menikah.

“Ibu tak ingin punya anak perawan tua, Gauri! Tak berguna kecantikanmu, jika kau terus menyendiri!”

Dua kalimat itu berkali-kali keluar dari lisan wanita yang telah melahirkan gadis cantik-yang kini termenung di depan mesin pemintal. Gauri bertahan, awalnya. Kemudian menyerah dan menerima lamaran lelaki itu.

Keangkuhan Gauri menjadi beban yang harus dipikul orang tua. Bisik-bisik masyarakat tentang bunga desa anak juragan tanah Sikka itu terdengar tajam di telinga sang ibu. Perawan tua angkuh banyak memilih, begitulah kalimat yang selalu terdengar di telinga ibu Gauri.

Meski berparas rupawan dan menjadi pujaan para lelaki di Desa Sikka, tetapi Gauri tak kunjung mengakhiri masa lajang. Keelokan rupa membuatnya begitu selektif mencari pasangan hidup. Ia selalu mendamba sosok pangeran tampan nan kaya dari negeri dongeng.

“Tak sepadan denganku,” ucapnya pongah, setiap kali sang ibu bertanya alasannya menolak lelaki yang datang.

“Kau akan terus menyendiri jika mengharap yang sempurna. Bangun dari mimpimu, Gauri!”

Ucapan sang ibu bagai angin lalu yang tak pernah ia indahkan. Putri seorang tetua desa yang kaya itu memiliki kriteria tersendiri untuk calon suami. Pria muda, kaya raya, juga rupawan, menjadi syarat diterimanya sang pelamar. Namun sayang, tak ada yang benar-benar memenuhi kriteria si bunga desa. 

Kecantikan Gauri terdengar hingga ke beberapa desa lainnya. Banyak pria muda dan tampan datang melamar, tetapi harus pulang dengan rasa malu. Harta mereka yang tak sebanding dengan harta orang tua Gauri, menjadi sebab penolakan.

Nasib yang sama juga diterima oleh para pria kaya. Wajah, usia, dan status pernikahan mereka membuat Gauri menolak mentah-mentah lamarannya. Tak ada yang benar-benar menarik hati gadis yang kini telah berusia 35 tahun itu.

Setelah banyaknya lamaran yang datang dan selalu ditolak, beberapa tahun belakangan tak lagi ada lelaki yang datang meminta gadis cantik itu untuk menjadi istrinya. Keangkuhan Gauri menyaingi kabar kecantikannya. Kini, kesendiriannya di usia yang semakin matang membuat kekhawatiran sang ibu meningkat. Hingga Anand--pengusaha muda dari desa lain—datang melamar.

Meski memiliki kekayaan berlimpah, tetapi wajah lelaki berusia 33 tahun itu tak menarik sama sekali di mata Gauri. Rambut Under Cut menyerupai batok kelapa menutupi kepalanya. Tompel sebesar koin di bawah mata, membuat gadis itu tak ingin melihat, bahkan melirik wajah Anand. Beberapa gigi yang menghitam membuat Gauri bergidik setiap kali membayangkan senyumnya. Namun, ancaman sang ibu membuatnya menyerah.

“Menikah dengannya, atau jangan pernah menganggapku sebagai ibu dan pergi ke dunia dongengmu!”

Hati Gauri dirundung duka. Impiannya menjadi permaisuri dari pangeran tampan nan kaya raya sirna sudah. Ia termenung seraya memilin benang. Tatapannya sayu. Berhari-hari gadis itu tidak berselera makan. Hanya beberapa suap nasi ia telan untuk tetap bertahan.

Desa Sikka terkenal dengan kain tenun ikatnya. Setiap gadis di sana wajib pandai menghasilkan kain tenun, mulai dari proses pemintalan benang, mewarnai, memberi motif, hingga menenun. Di sana, pengantin wanita wajib memberikan kain tenun IKAT buatan tangannya kepada pengantin pria, saat upacara pernikahan berlangsung. Adat tersebut telah menjadi kewajiban yang harus dilakukan dalam setiap pernikahan di Sikka. Jika tidak, pengantin wanita dan orang tuanya akan dicap sebagai pembawa sial, lalu dikucilkan.

Kini, Gauri harus memintal benang-benang dengan jari lentiknya. Kemudian mewarnai, hingga menjadikannya kain tenun ikat khas Sikka. Semakin cantik hasil tenun sang pengantin wanita, semakin besar penghormatannya kepada sang suami. Begitu anggapan turun temurun warga di sana. Setelah kain tenun selesai, barulah pernikahan dilakukan.

Satu bulan sudah Gauri berkutat dengan kapas-kapas dan benang di hadapannya. Namun, tanda-tanda pemintalan selesai belum juga tampak. Benang-benang itu masih terurai tak beraturan.

“Kapan kau akan menyelesaikannya, Gauri? Tiga bulan tak akan cukup jika cara kerjamu seperti ini!” Ibu Gauri menghampiri gadis itu untuk melihat hasil pintal anaknya.

“Mungkin aku butuh waktu lebih lama lagi, Bu,” jawabnya lesu, tanpa memandang wajah sang ibu.

“Tiga bulan waktu yang cukup untuk membuat kain tenun ikat, Gauri. Jangan mempermalukan Ibu di hadapan Anand dan warga desa!”

“Apa hebatnya lelaki itu, sampai Ibu memaksaku menikah dengannya? Pria buruk rupa, tak sebanding denganku!” Gauri berdiri menghadap ibunya. Seketika, sebuah tamparan mendarat di pipi tirus gadis bertubuh sintal itu.

“Ibu—“

Ucapan Gauri terhenti saat suara seseorang yang baru saja dibicarakan terdengar. Pria yang mengenakan kurta berwarna cokelat muda itu menatap lembut calon istrinya.

“Saya masih bersedia menunggunya. Biarkan dia memintal benang-benang ini perlahan, Bu,” tutur Anand lembut seraya menghampiri kedua wanita yang masih diliputi amarah.

“Cih! Jika bukan karena Ibu, aku tak sudi menikah denganmu!” Gauri menatap tajam lelaki di hadapannya. Sementara, yang dipandang hanya tersenyum dan tak mengalihkan objek penglihatannya.

“Jaga bicaramu, Gauri!” bentak ibu Gauri.

“Biarkan saja, Bu. Semakin Gauri menolak, semakin saya tertarik dengannya.”

Sorot mata Gauri menatap nyalang pada Anand. Gemuruh dalam dada seolah ingin menumpahkan sumpah serapah ke wajah bulat lelaki itu. Tanpa sadar, kedua tangannya menarik sehelai benang dengan kuat hingga PUTUS. Tetes demi tetes darah mulai mengalir dari kulit putihnya.

“Gauri ....” Lembut tangan Anand meraih jemari lentik sang calon pengantin. Namun, Gauri menepisnya dengan kasar dan berlari meninggalkan ruangan tempat ia memintal benang.

***
Satu purnama berlalu sejak kedatangan Anand di ruang pintal. Gauri masih saja berkutat pada tahap pemintalan kapas menjadi benang. Seharusnya, ia sudah mewarnai benang-benang itu, menciptakan motif, hingga mulai menenunnya menjadi kain.

“Sampai kapan pun kau memintal, aku akan menunggu,” ucap Anand lembut di telinga Gauri, hingga membuat gadis itu terlonjak. Senyap langkahnya membuat Gauri tak menyadari kehadiran lelaki itu.

“Tunggu saja sampai rambutmu memutih!”

Anand hanya menyunggingkan senyum, menampakkan beberapa gigi seri yang menghitam. Kemudian, kembali mendekatkan wajah jeleknya ke wajah cantik Gauri. “Bulan depan aku akan datang lagi, dan lagi ... melihat bidadari Sikka memintal benang,” bisiknya, lalu perlahan menjauh dan meninggalkan gadis itu sendirian.

Gauri frustrasi. Ia menarik dan mengURAI benang-benang itu. Semua yang telah tersusun, kembali menjadi benang-benang PUTUS tak beraturan. Air matanya mulai mengalir. Gauri telah kalah. Kali pertama keangkuhannya mencipta tangis.

Bayang-bayang pernikahan dengan lelaki buruk rupa semakin jelas terlihat. Gauri menjerit seraya mengacak dan menarik kasar rambut panjangnya. Mahkota indah yang terulur panjang itu kini tampak KUSUT dan berantakan.

Puas melampiaskan amarah, Gauri duduk kembali di depan alat pemintal benang. Sayu matanya menatap mesin di hadapan. Perlahan, ia kembali mengumpulkan benang-benang dan memintalnya.

***
Gauri terus memintal benang di hari-hari berikutnya. Pekerjaan yang tak pernah berubah dan tak menghasilkan apa-apa. Sebab, setiap malam ia akan mengurai kembali benang-benang itu.

“Kau benar-benar gila, Gauri! Ini sudah hampir bulan ketiga, tapi kau masih saja memintal?” Ibu Gauri tampak frustrasi melihat anaknya. Dengan lembut gadis itu terus memintal tanpa memandang wajah ibunya.

“Gauri!” Wanita dengan sebagian rambut yang mulai memutih itu menarik tangan sang anak.

“Jika bulan ketiga aku tidak selesai membuat kain, apakah pernikahan akan batal, Bu?” Sepasang mata indah Gauri mulai basah, menatap ibunya penuh harap. 

“Semua tergantung keputusan Anand.”

“Kalau begitu, aku akan terus memintal benang hingga ia membatalkannya.”

“Ibu tak mengerti jalan pikiranmu. Kau terlalu angkuh, Gauri!” Wanita paruh baya itu berlalu meninggalkan ruang pemintal.

Gauri melanjutkan aktivitasnya perlahan. Siang hari ia memintal benang. Malam hari, secara diam-diam ia kembali ke ruang pintal dan mengurai kembali benang-benang itu.

***
Purnama ketiga tiba. Anand kembali datang melihat calon pengantinnya. Dengan kurta berwarna biru muda, lelaki itu tersenyum lebar menampakkan deretan gigi yang sebagian telah menghitam.

“Kau lihat! Aku masih memintal. Tak ada sehelai kain pun untukmu!”

“Aku akan menunggu. Lamaran tak akan kubatalkan.”

“Dasar pria gila! Kau seharusnya berkaca diri sebelum melamarku!” Gauri melemparkan satu gulungan benang ke arah Anand, tepat mengenai pelipis pria itu.

Anand mengambil gulungan benang itu dilantai, dan melempar-lemparkannya pelan. Dengan tatapan tajam ia berkata, “Kita lihat, sampai di mana kau bertahan.” Anand berlalu meninggalkan Gauri di ruangan pintalnya.

Gadis berkulit putih itu semakin frustrasi. Ia menjerit dan menghambur-hamburkan benang di lantai. Gauri tak menyangka usahanya sia-sia. Anand tak mau membatalkan lamaran.

*** 
Purnama demi purnama berlalu. Setiap bulan Anand menemui Gauri yang semakin tampak lusuh dan sayu. Aura kecantikannya semakin berkurang, seiring semangat yang menghilang. Tatapan matanya kosong. Ia terus memintal benang tanpa peduli siapa di sekelilingnya.

Hingga dua belas purnama terlewati, Gauri tampak semakin ringkih dengan tubuh kurusnya. Gadis cantik itu tak lagi mendongakkan wajah saat menatap lawan bicara. Hari-hari hanya dihabiskan dengan memintal benang, dan mengurainya kembali saat malam.

“Sudah satu tahun. Sudah saatnya aku melepasmu,” bisik Anand lembut di balik rambut hitam Gauri.

Mendengar ucapan Anand, secercah harapan di hati Gauri kembali bercahaya. Mendadak bibir pucat itu menyunggingkan senyum tipis. Ia menoleh perlahan, menatap sepasang manik hitam lelaki di hadapannya.

“Kau senang?” tanya Anand.

Gadis itu mengangguk pelan. “Kenapa? Kau menyerah?” Gauri menaikkan sebelah bibirnya. Keangkuhan yang selama beberapa bulan ini mulai memudar, perlahan kembali terlihat di wajahnya.

“Tidak. Aku hanya sudah merasa puas.”

Gauri mengernyit. “Apa maksudmu?”

Tangan kekar Anand perlahan menarik rambut model Crop Cut yang selama ini menutupi kepalanya. Model rambut yang sangat tidak disukai Gauri. Wig itu ia biarkan jatuh ke lantai. Tampak rambut hitam model undercut yang tak asing di mata Gauri.

Setelah melepas rambut palsunya, tangan Anand menarik tompel di bawah mata, lalu membuangnya ke lantai. Anand kemudian mengambil sapu tangan di kantong kurta yang ia kenakan. Warna hitam di gigi-giginya perlahan menghilang, hingga tampak deretan gigi putih.

Wajah tampan yang lima tahun lalu sempat menggetarkan hati Gauri, kini hadir di hadapannya.

“Kau—“

“Kau masih ingat?”

Kilas kejadian lima tahun lalu itu berputar. Yazid Anand, pemuda tampan yang datang bersama kedua orang tuanya untuk meminang Gauri. Pekerjaan Anand yang saat itu masih merintis usaha, membuat Gauri enggan menerima. Meski hati terpaut pada ketampanan lelaki itu, tetapi akal sehat Gauri menolak. Ia tak ingin hidup dalam kesederhanaan.

“Apa maksudmu dengan semua ini?!” Gauri berdiri, menatap tajam lelaki itu.

“Melihat gadis cantik yang angkuh menjadi gila.” Anand tersenyum sangat manis di hadapan Gauri. Lelaki itu tak peduli tatapan tajam Gauri yang seolah ingin menerkamnya.

Ketampanan Anand yang sempat menghipnotis Gauri, kini kembali terpampang di hadapannya. Mendadak, sebersit sesal mengapung ke permukaan. Kedua matanya mulai menghangat. Air mata itu tumpah tanpa ia perintah.

“Kau tidak boleh membatalkannya!” tukas Gauri. “Aku ... akan membuat kain tenun ikat terbaik untukmu,” lirihnya lagi.

“Tak perlu.”

“Aku berjanji –“

“Sudahlah, Gauri.” Anand memotong kalimat gadis itu, lalu menunjukkan sebuah foto dari dalam dompetnya. Tiga orang tampak tertawa bahagia dalam selembar gambar tersebut. “Lusa hari ulang tahun putraku yang pertama. Datanglah jika kau masih ‘sehat’,” sindir Anand seraya menunjuk bayi mungil dalam foto.

“Bajingan!” Gauri berteriak seraya menarik rambutnya. Namun, Anand terus berlalu tanpa menghiraukan tangis dan umpatan gadis itu. 

Di ambang pintu, Anand menoleh dan berkata dengan keras, “Teruslah memintal benang sampai pangeran dari negeri dongengmu datang!”

*** 
Seorang wanita tua tak berhenti menangis melihat kondisi putrinya, hingga menyebabkan kedua matanya buta. Harapan melihat sang anak mengarungi bahtera dan memberinya cucu sirna sudah. Putri semata wayangnya hanya bisa memintal dan berkisah tentang pangeran impiannya.

Gauri Khan. Nama itu semakin terkenal. Tak hanya di Desa Sikka, tetapi juga ke penjuru negeri. Namun, ia tak lagi dikenal karena kecantikannya seperti dulu. Melainkan kisah hidup seorang gadis cantik nan angkuh, yang berakhir di depan mesin pemintal.

Sejak kedatangan terakhir Anand, Gauri tak pernah berhenti memintal benang. Saat malam, ia mengurainya kembali. Bertahun lamanya. Hingga waktunya tiba, ia kembali ke tempat yang tak lagi ada perbedaan, antara rupa, takhta, dan harta.

*End*

Baca juga Ini Baru 'Laki'G6

No comments

Member Of