Cerpen : Iparku Miskin Segala-galanya



Kulihat wanita gendut berkulit hitam itu terus mengomel sambil mencuci piring-piring kotornya. Entah apa yang dia katakan, aku tak begitu jelas mendengarnya. Tangan besarnya begitu gesit membersihkan piring-piring itu hingga bunyi kaca beradu membuatku tak nyaman.

Tempat cuci piring di rumah mertua berada di samping rumah. Tepatnya di depan kamar mandi. Semua aktivitas mencuci, baik pakaian maupun piring dikerjakan di luar. Semua orang yang lewat bisa melihatnya.

Aku yang mencuci pakaian di mesin cuci dekat pintu samping, bisa melihat jelas wajah jeleknya yang ditekuk dengan mulut komat-kamit.

"Enak dia nyuci pakai mesin!" Samar-samar kudengar kalimat terakhirnya sebelum meninggalkan kamar mandi.

Aku hanya tersenyum miris. Dia selalu saja iri.

Rumah iparku itu menempel di samping rumah mertua. Bahkan, ada satu pintu yang langsung terhubung dari rumahnya ke dalam yang kutempati ini. Kamar mandi dan tempat mencuci di samping rumah dipakai untuk dua keluarga. Namun, sejak kedatangan orang tuaku beberapa hari lalu, aku tak lagi mencuci piring di luar. Uang yang dikasih orang tua, kugunakan untuk membuat tempat cuci piring sendiri di dapur. Meski sederhana, tetapi lebih baik daripada aku harus mencuci piring di luar.

Sudah setahun aku hidup di rumah mertua, dengan kamar mandi dan toilet berbagi dengan ipar. Meski penghasilan suami pas-pasan, tetapi kami masih bisa masak dan memiliki barang-barang yang cukup langka dimiliki oleh warga di sini.

Rumah mertuaku berada di sebuah kampung, di mana semuanya masih suka pakai yang manual. Mereka mencuci baju pakai tangan, giling cabai pakai cobek, dan lain-lain. Aku memilih untuk membeli mesin cuci, blender, bahkan dispenser agar memudahkan pekerjaanku.

Meski penghasilan suami tidak begitu besar, tetapi kami masih bisa makan di luar dan beli peralatan itu. Aku masih bisa bikin pizza, spaghetti, dan lainnya yang belum pernah dimakan oleh orang-orang di sana. Tentu saja, selain tabungan yang kami punya sebelum tinggal di sana, pendapatan suami, juga dari uang yang kudapat dari orang tuaku. Yang jelas, aku tak pernah meminta mertua membelikan apa pun untukku.

Pernah kuajak suami ke mall, meski jaraknya jauh dari rumah. Aku berniat membelikan baju anak setelah mendapat kiriman dari orang tuaku. "Untuk cucu," katanya lewat sambungan telepon.

Setelah pulang dari mall, tampaklah wajah iparku yang jelek sejelek hatinya itu cemberut tak jelas. Masa bodoh! Toh, aku tak meminta uang siapa pun.

Kemudahan yang kudapatkan ternyata membuat iparku dengki. Tiada hari tanpa komat-kamit. Wajahnya yang jelek semakin jelek. Sering kudengar ia bertengkar dengan suaminya masalah uang. Aku tak peduli. Asal mereka tidak menggangguku.

Sayangnya, kedengkian itu semakin lama semakin membusuk dan semakin tercium baunya. Ia kadang marah dan berkata pada suaminya dan mertua, "Dia dibelikan ini itu, aku mana?"

Ah, yang benar saja! Semua yang kumiliki itu bukan dari mertua. Apa dia buta? Dia bahkan pernah berkata langsung padaku, "Enak kowe, yo. Wong tuomu sugih!"

Salahkah jika orang tuaku kaya dan masih suka kirim uang untukku anak dan cucunya? Ah, aku tak peduli dengan ucapannya. Malah, anaknya juga kukasih uang jika aku dapat kiriman dari orang tua.

Namun, dia masih tetap buta oleh rasa iri dengkinya itu. Bahkan, dia tega memfitnahku dengan mengatakan bahwa aku menghasut suami untuk minta harta mertua. Padahal, tak ada sedikit pun tanah yang kami cungkil.

Tak jarang ia dan suaminya selalu membahas warisan. Mertuaku punya kebun yang bisa dibagi ke anak-anaknya. Namun, aku dan suami tak pernah membahas masalah itu. Berbeda sekali dengan iparku itu yang sangat takut tidak diberi warisan.

"Keluargamu kan kaya, ngapain lagi ngarep warisan tanah Ibu?" katanya suatu hari.

"Siapa yang mengharap warisan Ibu? Aku juga gak butuh! Harta keluargaku puluhan kali lebih banyak dari punya Ibu!" jawabku kesal atas pertanyaannya yang tak masuk akal.

"Ya sudah kalau gitu. Awas kalau minta!" katanya dengan raut wajah jelek sejelek hatinya.

"Ambil saja. Orang miskin layak dapat bantuan," jawabku sebelum meninggalkannya ke dapur.

End

No comments

Member Of