Sedekah atau Hanya Strategi Marketing?

 


 Sedekah atau Hanya Strategi Marketing?
#sedekahpakaisyarat


Aku tidak terkejut ketika tulisan itu pertama kali lewat di berandaku. Postingan mengenai keinginan seseorang untuk bersedekah sebuah produk bernilai ratusan juta. Sebab, aku memang sering membaca postingannya tentang sedekahnya. Namun, hanya kulewatkan saja karena aku tidak tertarik dan merasa pasti ada syaratnya yang tidak bisa kupenuhi. Misal, disuruh share dan tag puluhan teman atau komen sebanyak-banyaknya. 


Sehari setelahnya, aku membaca postingan salah satu teman tentang itu. Postingan itu cukup membuatku terkejut. Dia menyebutkan kalau sedekah yang dimaksud itu bersyarat.


[Apa syaratnya?] tanyaku di kolom komentar. 


[Disuruh beli produknya yang lain senilah sekian ratus ribu.]


Kalimat itu cukup membuatku terkejut. Ternyata benar, teman-teman yang lain juga mengiyakan kalau mereka disuruh japri dan disuruh beli produk lain dengan nominal yang tidak sedikit bagi banyak orang, terlebih di masa pandemi seperti ini. Untuk beli beras saja banyak yang kesulitan. Apalagi disuruh membeli produk yang tidak dibutuhkan demi barang yang tidak sebanding nilainya. 


Dari ribuan komentar yang berisi kata 'mau' itu, aku melihat akun salah seorang teman. Aku chat dia via WA untuk bertanya sekligus menjelaskan kalau itu bukan sedekah. Ternyata, kata temanku itu, penjual memang sering menggunakan taktik marketing seperti itu dari dulu. Bahkan, bukan cuma dia, tapi juga penjual-penjual lainnya yang sudah sukses dan terbilang 'religius'. 


Sungguh, hatiku miris melihat kondisi seperti itu. Apakah softselling atau apa pun nama strategi marketingnya, harus menyakiti perasaan orang yang sudah berharap dan memang menganggap kalau itu benar-benar murni sedekah? Apakah harus menyebut-nyebut kalau itu sedekah? 

Kenapa tidak bilang saja kalau itu bonus selama masa promosi produk X? Apa makna sedekah di mata para pedagang atau pun owner-owner itu? 


Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang membiasakan dirinya untuk beramal ikhlas karena Allah niscaya tidak ada sesuatu yang lebih berat baginya daripada beramal untuk selain-Nya. Dan barangsiapa yang membiasakan dirinya untuk memuaskan hawa nafsu dan ambisinya maka tidak ada sesuatu yang lebih berat baginya daripada ikhlas dan beramal untuk Allah."


Selain berilmu, alangkah baiknya umat Muslim memastikan keikhlasannya dalam bersedekah. 


Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Sesungguhnya amalan jika ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak akan diterima. Demikian pula apabila amalan itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima sampai ia ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika diperuntukkan bagi Allah, sedangkan benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan.” 


Apakah sedekah yang dilakukan dengan syarat harus ada pembelanjaan terlebih dahulu itu sudah sesuai dengan tuntunan Rasulullah? Lalu, siapa akhirnya yang menerima sesuatu yang mereka sebut dengan sedekah itu? Apakah mereka yang benar-benar butuh tetapi tidak mampu membeli? Atau mereka yang punya uang lebih untuk membeli produk yang tidak dibutuhkan demi barang yang 'disedekahkan?'


“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]


Semoga makna sedekah di hati umat Muslim tidak bergeser. Bedakanlah mana sedekah dan mana bonus dari pembelian produk bernilai sekian. 


Bisnis itu tak hanya tentang untung rugi, tetapi bagaimana Allah meridhoi langkah kita dan memberikan berkah di dalamnya. Sebab, semua akan ada hisabnya masing-masing. 


Semoga Allah memberi hidayah kepada kita. Aamiin.

No comments

Member Of